TITANIUM

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

makalah pencemaran lingkungan dan suksesi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
Era globalisasi seperti sekarang, sudah tidak kita hentikan dan kita abaikan perkembangannya. Pola hidup kita tanpa di sadari menjadi lebih instan, cepat dan fragmatis dan juga permasalahn-permasalahan kompleks yang bermunculan di dalam lingkungan di sekitar kita. Ketidakseimbangan di dalam ekosistem sudah menjadi hal yang umum, sebagai contohnya saja ialah pemanasan global, penipisan lapisan ozon, eutrofikasi, gangguan nitrogen dalam bidang pertanian, dan masih terdapat yang lainnya. Akibatnya, daya dukung lingkungan akan semakin menurun, kestabilan ekosistem akan semakin tidak mantap, dan tanpa kita sadari bencana demi bencana terjadi bersusul-susulan. Hal itu, baik secara langsung ataupun tidak langsung akan mengurangi kualitas hidup kita dan organisme makhluk hidup lain. Cepat atau lambat permasalahan ini akan menimbulkan suksesi baik dalam skala kecil(suksesi skunder) maupun skala besar(suksesi primer).
Sebetulnya apakah akar yang menjadi problema tersebut?.Akar problematikanya dalam konteks ini adalah gaya hidup, apalagi pada era globalisasi ini, kebanyakan dan kecenderungan orang hanya berpikir dari segi nilai ekonomisnya saja dengan tanpa juga memperhatikan dampaknya yang akan terjadi di lingkungan maupun ekosistem dalam segi keseimbangan serta kemantapannya dalam siklus kehidupan alami ini. Sekarang, manusia terllu mengeksploitasikan secara berlebihan baik dari segi kuantitasnya dan daya muat sumberdaya tersebut. Jadi selain mengurangi dan menghilangkan daya alam tersebut untuk menunjang kestabilan lingkungannya juga menghabiskan sumberdaya tersebut untuk anak cucu kita. Sumber daya baik yang terbaharui seperti air, udara, cahaya ataupun sumberdaya tak terbaharui seperti bahan-bahan tambang mineral.
Oleh karena itu, mengingat semakin kompleksnya masalah-masalah lingkungan di hadapan kita serta mengingat emakin tidak mantapnya siklus pada tingkat ekosistem, maka penulis tertarik untuk membahas topik di atas secara lebih mendalam dan topik tersebut yaitu mengenai penyebab pencemaran lingkungan dan proses terjadinya suksesi, yang pada masa sekarang menjadi masalah yang semakin umum dan kritis keadaannya. Maksud penulis mengangkat topik ini adalah supaya permasalahan yang kompleks tersebut dapat di angkat ke wadah umum dan pembaca minimal mengetahui permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks yang sekarang sedang terjadi ini.
1.2 Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan ?
2.      Apa saja macam-macam pencemaran lingkungan?
3.      Apa yang dimaksud dengan suksesi dan penyebabnya ?
4.      Apa saja macam-macam dari suksesi?
5.      Bagaimana upaya penaggulangan dari pencemaran lingkungan?

1.3 Tujuan

1.      Menjelaskan pengertian dari pencemaran lingkungan.
2.      Menjelaskan macam-macam dari pencemaran lingkungan.
3.      Menjelaskan pengertian istilah dari suksesi dan Menjelaskan penyebab-penyebab dari suksesi.
4.      Menjelaskan macam-macam dari suksesi.
5.      Menjelaskan upaya penanggulangan pencemaran lingkungan.





















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pencemaran Lingkungan
            Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat  tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
2.2 Macam-macam Pencemaran
     Macam-macam pencemaran dapat dibedakan berdasarkan pada tempat terjadinya, macam bahan pencemarnya, dan tingkat pencemaran. Menurut tempat terjadinya, pencemaran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pencemaran udara, air, dan tanah.
     2.2.1 Pencemaran udara
            Pencemaran udara dapat berupa gas dan partikel. Contohnya sebagai berikut.
       a. Gas HzS. Gas ini bersifat racun, terdapat di kawasan gunung berapi,
           bisa juga dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dan batu bara.
            b. Gas CO dan COz. Karbon monoksida (CO) tidak berwarna dan tidak berbau,  bersifat racun, merupakan hash pembakaran yang tidak sempurna dari bahan buangan mobil dan mesin letup. Gas COZ dalam udara murni berjumlah 0,03%. Bila melebihi  toleransi dapat menganggu pernapasan. Selain itu, gas C02 yang terlalu berlebihan di bumi dapat mengikat panas matahari sehingga suhu bumi panas. Pemanasan global di bumi akibat C02 disebut juga sebagai efek rumah kaca.
c. Partikel SOZ dan NO2. Kedua partikel ini bersama dengan partikel cair membentuk embun, membentuk awan dekat tanah yang dapat mengganggu pernapasan. Partikel padat, misalnya bakteri, jamur, virus, bulu, dan tepung sari juga dapat mengganggu kesehatan.
            d. Batu bara yang mengandung sulfur melalui pembakaran akan meng-hasilkan sulfur        dioksida. Sulfur dioksida ber$ama dengan udara serta oksigen dan sinar matahari     dapat menghasilkan asam sulfur. Asam ini membentuk kabut dan suatu saat akan           jatuh    sebagai hujan yang disebut hujan asam. Hujan asam dapat menyebabkan gangguan pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Misalnya gangguan     pernapasan, perubahan morfologi pada daun, batang, dan benih.
                        Sumber polusi udara lain dapat berasal dari radiasi bahan radioaktif, misalnya,        nuklir. Setelah peledakan nuklir, materi radioaktif masuk ke dalam atmosfer dan jatuh       di bumi. materi radioaktif ini akan terakumulusi di tanah, air, hewan, tumbuhan,            dan      juga pada manusia.
                        Efek pencemaran nuklir terhadap makhluk hidup, dalam taraf tertentu, dapat         menyebabkan mutasi, berbagai penyakit akibat kelainan gen, dan bahkan kematian.
            Pencemaran udara dinyatakan dengan ppm (part per million) yang artinya jumlah cm3       polutan per m3 udara.
            2.2.2 Pencemaran air
            Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar sebagai berikut.
            a. Pembuangan limbah industri, sisa insektisida, dan pembuangan
            sampah domestik, misalnya, sisa detergen mencemari air. Buangan
            industri seperti Pb, Hg, Zn, dan CO, dapat terakumulasi dan bersifat
            racun.
            b. Sampah organik yang dibusukkan oleh bakteri menyebabkan 02 di air
            berkurang sehingga mengganggu aktivitas kehidupan organisme air.
            c. Fosfat hasil pembusukan bersama h03 dan pupuk pertanian
            terakumulasi dan menyebabkan eutrofikasi, yaitu penimbunan mineral
            yang menyebabkan pertumbuhan yang cepat pada alga (Blooming
            alga). Akibatnya, tanaman di dalam air tidak dapat berfotosintesis
            karena sinar matahari terhalang.
            Salah satu bahan pencemar di laut ada lah tumpahan minyak bumi, akibat kecelakaan         kapal tanker minyak yang sering terjadi. Banyak organisme akuatik yang mati atau         keracunan karenanya. (Untuk membersihkan kawasan tercemar diperlukan koordinasi        dari berbagai pihak dan dibutuhkan biaya yang mahal. Bila terlambat penanggulangan-nya, kerugian manusia semakin banyak. Secara ekologis, dapat     mengganggu ekosistem laut.
            Bila terjadi pencemaran di air, maka terjadi akumulasi zat pencemar pada tubuh     organisme air. Akumulasi pencemar ini semakin meningkat pada organisme      pemangsa yang lebih besar.
            2.2.3 Pencemaran tanah
                        Pencemaran tanah disebabkan oleh beberapa jenis pencemaran berikut ini :
            a. sampah-sampah pla.stik yang sukar hancur, botol, karet sintesis, pecahan kaca, dan        kaleng
            b. detergen yang bersifat non bio degradable (secara alami sulit
            diuraikan)
            c. zat kimia dari buangan pertanian, misalnya insektisida.
              2.2.4 Polusi suara
                        Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang,         deru mesin pabrik, radio/tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu        pendengaran.
            Macam bahan pencemar adalah sebagai berikut.
            1. Kimiawi; berupa zat radio aktif, logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Hi),
            pupuk anorganik, pestisida, detergen dan minyak.
            2. Biologi; berupa mikroorganisme, misalnya Escherichia coli, Entamoeba
            coli, dan Salmonella thyposa.
            3. Fisik; berupa kaleng-kaleng, botol, plastik, dan karet.
            Menurut tingkat pencemaran
            Menurut WHO, tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan waktu         (lamanya) kontak. Tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :
            1. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada
            panca indra dan tubuh serta telah menimbulkan kerusakan pada
            ekosistem lain. Misalnya gas buangan kendaraan bermotor yang
            menyebabkan mata pedih.
            2. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan
            menyebabkan sakit yang kronis. Misalnya pencemaran Hg (air raksa)
            di Minamata Jepang yang menyebabkan kanker dan lahirnya bayi
            cacat.
            3. Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian besarnya
            sehingga menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian dalam
            lingkungan. Misalnya pencemaran nuklir.
            Parameter Pencemaran
                        Dengan mengetahui beberapa parameter yang ads pads daerah/kawasan      penelitian akan dapat diketahui tingkat pencemaran atau apakah lingkungan itu sudah      terkena pencemaran atau belum. Paramaterparameter yang merupakan indikator          terjadinya pencemaran adalah sebagai berikut :
                        a. Parameter kimia
            Parameter kimia meliputi C02, pH, alkalinitas, fosfor, dan logam-logam
            berat.
                        b. Parameter biokimia
            Parameter biokimia meliputi BOD (Biochemical Oxygen Demand), yaitu
            jumlah oksigen dalam air. Cars pengukurannya adalah dengan
            menyimpan sampel air yang telah diketahui kandungan oksigennya
            selama 5 hari. Kemudian kadar oksigennya diukur lagi. BOD digunakan
            untuk mengukur banyaknya pencemar organik.
            Menurut menteri kesehatan, kandungan oksigen dalam air minum atau BOD tidak             boleh kurang dari 3 ppm.
                        c. Parameter fisik
            Parameter fisik meliputi temperatur, warna, rasa, bau, kekeruhan, dan radioaktivitas.
                        d. Parameter biologi
            Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya mikroorganisme, misalnya, bakteri coli,         virus, bentos, dan plankton




2.3 Dampak-dampak dari pencemaran lingkungan
     2.3.1. Dampak pertanian terhadap siklus nutrien
                           Produksi pangan bagi populasi manusia bumi yang semakin meningkat mempunyai banyak pengaruh pada dinamika ekosistem, yang di mulai dari banyaknya spesies ikan yang hampir punah di beberapa daerah akibat penangkapan yang berlebihan, sampai ke penyebaran senyawa beracun untuk pengendalian hama di lahan-lahan pertanian, sampai habisnya persedian air tanah oleh irigasi. Setelah vegetasi di bersihkan pada suatu daerah tanaman bisa di tanam untuk beberapa waktu tanpa menambahkan nutrien tambahan karena adanya cadangan makanan. Akan tetapi, dalam suatu ekosistem pertanian suatu fraksi yang cukup besar dari nutrien-ntrien ini tidak di daur ulang akan tetapi diekspor dari daerah itu dengan bentuk biomassa tanaman.
                           Pertanian punya suatu dampak yang besar terhadap siklus nitrogen. Pengolahan, penghancuran dan pencampuran tanah meningkatkan laju penguraian bahan organik yang membebaskan nitrogen yang dapat di gunakan yang kemudian dikeluarkan dari ekosistem tersebut ketika tanaman itu di panen. Kajian baru-baru ini menunjukan aktivitas manusia telah kira-kira melipatgandakan persediaan nitrogen terfiksasi di bumi yang tersedia bagi produsen primer. Pnyebab utamanya adalah fiksasi nitrogen industri untuk pupuk, akan tetepi peningkatan penanaman tumbuhan polong-polongan dan pembakaran juga penting.
                           Peningkatan fiksasi nitrogen juga di hubungkan dengan pembebasan senyawa nitrogen yang lebih besar di udara oleh organisme dinitrofikasi. NO (Nitrogen Oksida) dapata menyebabkan pemanasan atmosfer, penipisan ozon atmosfer dan dalam beberapa ekosistem dapat menyebabkan hujan asam. Banyak nitrogen dalam pupuk juga berakhir pada air permukaan dimana nitrogen tersebut dapat merangsang pertumbuhan alga dan bakteri(Eutrofikasi).
2.3.2 Eutrofikasi danau yang dipercepat
                           Gangguan manusia telah mengganggu ekosistem air tawar melalui apa yang disebut Eutrofikasi Kultural. Pembuangan limbah cair dari pabrik, aliran permukaan buangan ternak dari padang pengembalaan dan tempat penyimpan hewan ternak dan penggelontoran pupuk dari daerah-daerah pertanian rekreasi dan perkotaan telah membebani aliran air sungai dan danau secara berlebihan dengan nutrien anorganik. Pengayaan ini seringkali mengakibatkan peningkatan kepadatan organisme fotosintetik secara eksplosif. Daerah yang lebih dangkal di tutupi oleh gulma, yang membuat transportasi air dan penangkapan ikan tidak mungkin di lakukan. Ledakan populasi alga dan Cyanobakteri menjadi semakin umum yang kadang-kadang mengakibatkan peningkatan produksi oksigen selama siang hari tetapi mengurangi jumlah oksigen pada malam hari akibat respirasi oleh populasi organisme yang sangat banyak tersebut. Ketika organisme fotosintetik mati dan bahabn organik terakumulasi di dasar danau detritifor mengguanakan semua oksigen dalam air yang lebih dalam.
                           Danau di golongkan berdasarkan derajat peningkatn ketersediaan nutrien  sebagai oligotrofik, mesotrofik, dan eutrofik. Dalam sebuah danau oligotrofik, produktivitas primernya relatif rendah karena nutrien mineral yang di perlukan oleh fitoplankton sangat langka. Pada danau lain, karakteristik lembah sungai dan daerah aliran ini di tangkap oleh produsen primer dan kemudian secara terus menerus di daur ulang di seluruh jaring-jaring makanan danau tersebut. Dengtan demikian, keseluruhan produktivitas lebih tinggi dalam danau mesotrofik dan paling tinggi dalam danau eutrofik.
  2.3.3 Emisi karbon dioksida dan efek rumah kaca
                           Sejak revolusi industri, konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil dan pembakaran sejumlah besar kayu yang di ambil dari penebangan hutan. Berbagai metode menaksir bahwa konsentrasi rata-rata karbon dioksida di atmosfer sebelum 1850 adalah sekitar 274 ppm. Ketika suatu stasiun pemantau di puncak Mauna Loa di Hawaii mulai melakukan pengukuran yang sangat akurat pada tahun 1958. Konsentrasi CO2 saat itu adalah 316 ppm. Saat ini konsentrasi, CO2 di atmosfermelebihi 360 ppm, suatu peningkatan sekitar 14% sejak pengukuran dimulai.
                           Banyak radiasi matahari yang mencapai planet ini di pantulkan kembali ke ruang angkasa. Meskipun CO2 dan uap air di atmosfer tembus terhadap cahaya tampak, CO2 dan uap air menangkap dan menyerap banyak radiasi inframerah yang di pantulkan, yang kemudian memantulkannya kembali ke arah Bumi. Proses ini menahan sebagian panas matahari. Jika bukan karena efek rumah kaca(green house effect) ini, rata-rata suhu udara pada permukaan bumi akan menjadi -18° C.
                           Dengan mempelajari bagaimana pemanasan dan pendinginan global di masa silam mempengaruhi komunitas tumbuhan, para ahli ekologi sedang mengguanakan strategi lain untuk memprediksi akibat perubahan suhu di masa depan. Catatan dari butiran serbuk sari memberikan bukti bahwa komunitas tumbuhan berubah secara dramatis dengan perubahan suhu. Perubahan iklim masa lampau terjadi secara perlahan-lahan, dan populasi tumbuhan dan hewan dapat bermigrasi ke daerah yang kondisi abiotiknya memungkinkan mereka untuk bertahan hidup.
                           Batu bara, gas alam, bensin, kayu, dan bahan bakar organik lainnya yang pokok dalam kehidupan modern tidak dapat di bakar tanpa melepaskan CO2. Pemanasan planet yang sesungguhnya sedang berlangsung saat ini sebagai akibat dari penambahan CO2 ke atmosfer adalah suatu permasalahan dengan akibat yang yidak pasti dan tanpa solusi yang sederhana.

2.3.4 Penipisan ozon di atmosfer
                           Kehidupan di Bumi terlindungi dari pengaruh radiasi ultra violet (UV) yang membahayakan melalui suatu lapisan pelindung molekul Ozon (O3) yang terdapat di dalam lapisan Stratosfer yang lebih rendah antara 17 dan 25 km di atas permukaan bumi. Ozon menyerap radiasi UV yang mencegah banyak radiasi UV tersebut mencapai kontak dengan organisme yang berada di Biosfer.
                           Perusakan ozon di atmosfer kemungkinan terutama di sebabkan oleh akumulasi kloroflourokarbon (CFC) Zat kimia yang di gunakan untuk lemari es, sebagai bahan bakar dalam kaleng aerosol dan dalam pabrik tertentu. Ketika produk perombakan dari zat kimia ini mencapai Stratosfer, klorin yang terkandung pada bahan kimia tersebut bereaksi  bereaksi dengan ozon, yang mereduksinya menjadi O2 molekuler. Reaksi kimia berikutnya membebaskan klorin tersebut, yang memungkinkannya bereaksi dengan molekul ozon lainnya dalam suatu reaksi berantai katalitik. Pengaruh itu terlihat paling jelas terlihat di atas Antartika, dimana suhu musim dingin memudahkan terjadinya reaksi atmosfer ini.
2.4 Upaya penanggulangan pencemaran lingkungan
                           Pencemaran lingkungan terus menerus terjadi, bakan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Berbagai aktifitas manusia, seperti transportasi dean industri telah menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Akibatnyta, lingkungan menjadi rusak dan pada akhirnya berdam[pak buruk bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu berikut upaya-upaya yang dapat menghambat pencemaran lingkungan.
2.4.1 Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor
                           Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor dapat dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan bermotor. Menggunakan bermotor dilakukan pada saat tertentu,  misalnya karena jarak bepergian yang jauh, perlu waktu yang cepat dan lain lain. Jika jarak yang ditempuh relatif dekat sebaiknya menggunakn sepeda atau berjalan kaki, selain sehat juga hemat energi dan tidak mencemar lingkunghan.
2.4.2 Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang sulit terurai
                           Sampah dari bahanm kaleng, plastik dan kaca, alumunium, timah su;lit diurai atau hancur dalam waktu cepat jika dibuang ke lingkungan. Karena itu, sebaikn ya kita mengurai penggunaaan bahan-bahan tersebut debgan yang lebih ramai lingkungan. Alangkah lebih baik jika bahan-bahan tersebut dipakai ulang atau daur ulang.
2.4.3 Menghindari penggunaan detergen secara berlebihan
                           Salah satu kegiatan rumah tangga yang dapat mencematri lingkungan adalah kegiatan mencuci. Kegiatan tersebut menghasilkan bahan mencemar berupa detergen yang mengalir ke selokan dan akhirnya mencemari sungai. Sering kali penggunaan detergen dilakukan secara berlebihan atau tidak sesuai dengan takaran yang dianjurkan oleh produsennya.
2.4.4 Menghindari penggunaan pupuk dan insektisida yang berlebihan
                           Pemaklaian pupuk kadang tidak sesuai dengan takaran yang seharusnya atau berlebihan. Sisa pupuk yang diserap oleh tanaman, terbawa air hujan masuk kedalam sungai dan danau. Akibatnmya terjadilah pencemaran pada sungai dan danau dalam bentuk eutrofikasi(pengkayaan).
                           Eutrofikasi mendorong pertumbuhan alga dengan bakteri yang mengonsumsi banyak oksigen di air, sehingga mengurangi jatah oksigen untuk ikan dan binatang lainnya. Eutrofikasi juga mempercepat pertumbuhan tumbuhan air, miasalnya eceng gondok, yang bdapat menyumbat saluran air vdan menghalangi sinar matahari yang sampai kebawah permukaan air. Akibatnya, proses dan kehidupan organisme dibawah air menjadi terganggu, karena kurangnya penyinaran matahari.
2.5 Suksesi
                           Perubahan komposisi dan struktur komunitas adalah yang paling jelas terlihat setelah beberapa gangguan, seperti kebakaran besar atau ledakan gunung berapi, menyebabkan hilangnya vegetasi yang ada. Daerah yang terganggu ini bisa di kolonisasi oleh suatu suksesi spesies lain. Peralihan seperti itu dalam komposisi spesies selama waktu ekologis menunjukan suatu proses yang di sebut suksesi ekologis (ecological succession). Proses ini disebut suksesi primer(primary succession), jika di mulai di suatu daerah yang hampir tidk memiliki kehidupan, dimana tanah masih belum pernah terbentuk, seperti pada sebuah pulau vulkanis baru atau pada reruntuhan yang di tinggalkan oleh glasier. Seringkali bentuk kehidupan satu-satunya yang paling awal ditemukan adalah bakteri autotrof. Lichen dan lumut, yang tumbuh dari spora yang di tiup angin, umumnya merupakan pelaku fotosintesis mikroskopis pertama yang berkoloni daerah seperti itu. Lahan dan tanah berkembang secara perlahan-lahan, ketika batuan memiliki pelapukan dan bahan-bahan organik menumpuk dari pembusukan sisa-sisa penghuni sebelumnya. Sekali tanah sudah terbentuk, lichen dan lumut umumnya dikalahkan oleh pertimbuhan tumbuhan lain, seperti rumput-rumputan, semak, dan pepohonan yang berkecambah dari biji yang di tiupkan angin dari daerah di sekitarnya atau terbawa oleh hewan-hewan. Akhirnya, suatu daerah bisa dikolonisasi oleh tumbuhan yang menjadi bentuk vegetasi yang dominan dalam komunitas itu. Suksesi primer dari daerah gundul dan tandus menjadi suatu komunitas seperti itu bisa memerlukan ratusan tahun bahkan ribuan tahun.
                           Suksesi sekunder(secondary succession) terjadi dimana suatu komunitas yang ada saat ini telah hilang oleh beberapa gangguan, yang hanya meninggalkan tanah yang tetap utuh. Sebagai contoh, daerah hutan yang telah di tebang dan dibersihkan untuk pertanian, jika ditinggalkan akan mengalami sekunder, dan akhirnya akan bisa kembali menjadi hutan. Jika daerah itu terbakar atau  di gembalakan secara berlebihan, semak-semak berkayu mungkin suatu saat akan menggantikan sebagian besar spesies herba itu, dan akhirnya pohon-pohon hutan bisa menggantikan sebagian besar semak tersebut.
                           Faktor apa yang menentukan rentetan suksesi tersebut? Kompetisi antara spesies-spesie tunggal untuk mendapatkan sumber daya yang tersedia adalah salah satu kemungkinannya. Karena ketersediaan sumberdaya berubah menurut perjalanan suksesi, spesies yang berbeda bersaing lebih baik pada tahapan yang berbeda. Tahapan suksesi awal seringkali di tandai oleh spesies yang terseleksi oleh r yang merupakan pembentuk koloni yang baik karena fekunditasnya yang tinggi dan mekanisme penyebarannya yang sangat baik. Banyak organme tersebut yang dapat dijelaskan sebagai spesies “pelarian(fugitive)” atau “gulma(weedy)” yang tidak bersaing dengan baik, kecuali pada daerah yang baru mengalami gangguan spesies seperti itu mempertahankan dirinya secara konstan, menempati daerah-daerah yang baru saja terganggu sebelum kompetisi yang lebih baik dapat menjadi stabil dalam tempat yang sama.





















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
             Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan. Pencemaran lingkungan ini terdiri dari beberapa macam pencemaran diantaranya pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran suara. Berdasarkan macxam pencemaran, dapat menimbuilkan dampak dari pencemaran itu sendiri, diantaranya dampak pertanian terhadap siklus nutrien, Eutrofikasi danau yang dipercepat, Emisi karbon dioksida dan efek rumah kaca, Penipisan ozon di atmosfer. Tentunya untuk menghindari dampak pencemaran yang lebih berat lagi, maka dilakukan upaya upaya yang dapat memperkeciln dari pencemaran yaitu
          Beralih kepada pencemaran, Perubahan komposisi dan struktur komunitas yang paling jelas terlihat setelah beberapa gangguan, seperti kebakaran besar atau ledakan gunung berapi, menyebabkan hilangnya vegetasi yang ada, hal ini dinamakan dengan Suksesi.  Suksesi yang jika di mulai di suatu daerah yang hampir tidk memiliki kehidupan, dimana tanah masih belum pernah terbentuk, seperti pada sebuah pulau vulkanis baru atau pada reruntuhan yang di tinggalkan oleh glasier yaitu suksesi primer(primary succession), sedangkan suksesi sekunder adalah Suksesi sekunder(secondary succession) terjadi dimana suatu komunitas yang ada saat ini telah hilang oleh beberapa gangguan, yang hanya meninggalkan tanah yang tetap utuh.
SARAN
Kita sudah paham betul bagaimana menjaga lingkungan tetap sehat dan bersih itu adalah kewajiban bagi masyarakat kita, betapa pentingnya kita semua menjaga lingkungan ini tetap alami dan menyegarkan, maka dari itu kepada siapa lagi jika tidak kita yang melakukan menjaga lingkungan sekitar, buang sampah pada tempatnya, jangan menebang pohon-pohon, karena dapat merusak lingkungan, kurangi asap kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi. Tentu saja untuk itu semua diperlukan kesadaran dari dri masing-masing betapa pentingnya menjaga linglkungan ini dan jangan mencemarinya, karena demi kesejahteraan hidup manusia.







                                                                                DAFTAR PUSTAKA

Ehlers, viktor M.. Steel, Ernest W ., 1969, Municipal and Rural Sanitation, McGraw-Hill Book Co., New      York.
 Manahan, Stanley E.. 1972, Environ mental Chem istry, Willard Grant Press, Boston. 
 Juli Soemirat Slam et. 1996, Kesehatan lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
 Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No. 416/MENKES/PER/PER/IX/1990 Tentang Syarat -syarat dan                                                                                pengawasan air mi num , Jakarta.
 Suratno, F.. 1990, Analisis m e ngenai dam pak lingkungan, Gadjah Mada University Press,           Yogyakarta.



makalah fungsi ekosisten alami dan buatan, aliran energi materi



FUNGSI EKOSISTEM: ALAMI DAN BUATAN
&
ALIRAN ENERGI DAN MATERI DALAM EKOSISTEM







MAKALAH
Disusun untuk memenuhi Tugas Kelompok
pada Mata Kuliah Biologi Umum II Semester Kedua
yang diampu oleh Dr. Nanik Heru Suprapti, M.Si

oleh:
1.       Fitri Kusuma Astuti                           24020112130056
2.       Widi Hastuti                                       24020112130058
3.       Ni Putu Tasya Savitri                        24020112140059
4.       Wilda Marta Lola                              24020112140060


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penyusun masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas Makalah Biologi Umum II ini. Makalah ini disusun agar menambah wawasan pembaca mengenai “Fungsi Ekosistem: Alami dan Buatan, Aliran Energi dan Materi dalam Ekosistem”. Penyusun menyajikan makalah ini berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Biologi Umum II di Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro.
Dalam penulisan makalah ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada:
  1. Ibu Dr. Nanik Heru Suprapti, M.Si, selaku dosen pengampu pada mata kuliah Biologi Umum II.
  2. Rekan-rekan semua yang mengikuti perkuliahan Biologi Umum II.
  3. Keluarga yang selalu mendukung penyusun.
  4. Semua pihak yang ikut membantu penyusunan Makalah “Fungsi Ekosistem: Alami dan Buatan, Aliran Energi dan Materi dalam Ekosistem”, yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan semua yang membaca makalah ini serta mudah-mudahan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Dalam penyusunan makalah ini penyusun merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan  maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Penyusun mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dalam makalah selanjutnya.
                                                                                                                 Semarang, 19 April 2013
                                                                                                           

                                                                                                                 Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………..      i
Kata Pengantar…………………………………………………………..     ii
Daftar Isi…………………………………………………………………     iii
 BAB I PENDAHULUAN………………………………………………     1
       1.1 Latar Belakang……………………………………………...     1
       1.2 Rumusan Masalah…………………………………………..    2
   1.3 Tujuan……………………………………………………...      2
BAB II FUNGSI EKOSISTEM: ALAMI DAN BUATAN & ALIRAN
ENERGI DAN MATERI DALAM EKOSISTEM....................................       6
             2.1 Pengertian Ekosistem.............................................................        6
             2.2 Ekosistem Alami.......................................................................         5
             2.3 Ekosistem Buatan...................................................................        8
   2.4 Pengertian Aliran Energi dan Materi dalam ekosistem .........  17
BAB IV PENUTUP.....................……………………………………….        26
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………...........        27








BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
            Dewasa ini, makhluk hidup semakin banyak dan beranekaragam jenisnya, terutama pada hewan dan tumbuhan. Keunggulan bioteknologi juga mempengaruhi perkembangan dari bertambah banyaknya varian dari makhluk hidup tersebut. Keberagaman makhluk hidup tentu saja tidak menghilangkan keterkaitan atau hubungan timbal balik berupa interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, atau sebaliknya. Maka dari itu, dalam kehidupan ini akan terus berlangsung interaksi antara makhuluk hidup (sebagai komponen biotik) dengan lingkungannya (sebagai komponen abiotik). Maka terjalinlah suatu keterkaitan yang disebut dengan ekosistem.
            Ekosistem merupakan suatu sistem yang terbentuk oleh adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Maka, ekosistem adalah kesatuan tatanan antara segenap komponen biotik maupun abiotik yang saling memengaruhi. Di dalam ekosistem terdapat berbagai komponen, ada komponen biotik dan abiotik, kemudian dalam komponen biotik terdapat pembagian organiseme, yakni organisme autotrof dan organisme heterotrof. Ekosistem tersusun disebabkan oleh adanya individu, kemudian populasi, dan komunitas, yang kemudian sekelompok organisme tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Ekosistem kemudian dibagi lagi berdasarkan lingkup alami dan buatan. Masih banyaknya sumber daya manusia yang tidak mengetahui perbedaan ekosistem alami dan ekosistem buatan, menyebabkan kurangnya perhatian manusia terhadap lingkungannya yang begitu banyak memiliki keanekaragaman.
            Di dalam ekosistem juga dijelaskan mengenai aliran energi yang diperoleh oleh makhluk hidup, mulai dari produsen menuju konsumen 1, konsumen 2, dan lain sebagainya, yang terkadang tidak diketahui oleh manusia. Jika salah satu makhluk hidup yang terdapat dalam rantai makanan tersebut punah, dapat memberikan efek yang fatal terhadap konsumen berikutnya, hal inilah yang masih kurang terpublikasi sehingga membuat manusia cenderung sembarangan dalam memanfaatkan makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, penyusun berusaha untuk menjelaskan secara detil mengenai fungsi ekosistem alami dan ekosistem buatan serta aliran energi dan materi dalam ekosistem, agar dapat membantu menambah wawasan kita supaya bisa lebih bersahabat dengan lingkungannya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah, masalah–masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.2.1  Apa yang dimaksud dengan Ekosistem?
1.2.2  Apa itu Ekosistem Alami beserta fungsinya?
1.2.3  Apa itu Ekosistem Buatan beserta fungsinya?
1.2.4  Apa yang dimaksud dengan Aliran Energi dan Materi dalam Ekosistem?
1.2.5  Bagaimana proses yang terjadi pada Aliran Enegri dan Materi dalam Ekosistem?

1.3 TUJUAN
                  Penulisan Makalah ini bertujuan:
       1.3.1  Memberikan informasi tentang pengertian ekosistem.
       1.3.2  Memberikan informasi tentang ekosistem alami beserta fungsinya.
       1.3.3  Memberikan informasi tentang ekosistem buatan beserta fungsinya.
       1.3.4  Memberikan informasi tentang pengertian aliran energi dan materi dalam ekosistem.
       1.3.5  Memberikan informasi tentang proses yang terjadi pada aliran energi dan materi
               dalam ekosistem.









BAB II
FUNGSI EKOSISTEM: ALAMI DAN BUATAN,
ALIRAN ENERGI DAN MATERI DALAM EKOSISTEM

2.1 Pengertian Ekosistem
                 Organisme hidup di dalam sebuah sistem yang ditopang oleh berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling berpengaruh. Sistem inilah yang disebut dengan ekosistem. Ekosistem adalah tempat dimana terjadinya proses saling interaksi dan ketergantungan antara makhluk hidup sebagai komponen biotik, dengan lingkungan hidupnya yang merupakan komponen abiotik. Ekosistem dipelajari dalam salah satu cabang ilmu biologi yaitu ekologi. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu oikos yang berarti tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Pembahasan ekologi tak bisa lepas dari ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik sendiri adalah seluruh makhluk hidup di bumi yang mencakup individu, populasi, dan komunitas. Sedangkan komponen abiotik adalah faktor-faktor yang bukan makhluk seperti faktor fisik dan kimia. Contoh dari komponen abiotik antara lain air, suhu, sinar matahari, tanah, dan angin (Iwak Pithik, 2012).
                 Menurut Budiyanto (2013), ekosistem adalah suatu sistem yang terbentuk oleh adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam arti lain, ekosistem adalah kesatuan tatanan antara segenap komponen biotik maupun abiotik yang saling memengaruhi. Berdasarkan pengertian tersebut, suatu ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotik) dan tidak hidup (abiotik) yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan tersebut terjadi karena adanya arus materi dan energi yang terkendali oleh adanya arus transportasi dan transformasi antar komponen dalam ekosistem. Setiap komponen memiliki fungsi (relung) tertentu. Selama setiap komponen tetap melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik, keteraturan ekosistem akan tetap terjaga. Berdasarkan fungsi dan aspek penyusunannya, ekosistem dapat dibedakan menjadi dua komponen, yaitu sebagai berikut:
a.    Komponen Abiotik, yaitu komponen yang terdiri atas bahan-bahan tidak hidup (nonhayati), yang meliputi komponen fisik dan kimia, seperti tanah, air, matahari, udara, dan energi. Menurut Prayoga (2011), Bagian dari komponen abiotik adalah ;
1] Tanah.
      Sifat-sifa fisik tanah yang berperan dalam ekosistem meliputi tekstur,kematangan,
     dan kemapuan menahan air.
2] Air.
     Hal-hal penting pada air yang mempengaruri kehidupan makhluk hidup adalah              suhu air, kadar mineral air, salinitas, arus air, penguapan, dan kedalaman air.
3] Udara.
     Udara merupakan lingkungan abiotik yang berupa gas. Gas itu berbentuk atmosfer        yang melingkupi makhluk hidup. Oksigen, karbon dioksida,dan nitrogen        merupakan gas yang paling pentung bagi kehidupan makhluk hidup.
4] Cahaya matahari
     Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan di bumi ini.    Namun demikian,penyebara cahaya di bumi belum merata. Oleh karena itu,             organisme harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang intensitas dan kualitas cahayanya berbeda.
5] Suhu atau temperatur.
     Setiap makhluk hidup memerlukan suhu optimum untuk kegiatan metabolisme dan      perkembangbiakannya.

b.    Komponen Biotik, yaitu komponen yang terdiri atas bahan-bahan yang bersifat hidup yang meliputi organisme autotrof dan heterotrof.
a)    Organisme Autotrof adalah semua organisme yang mampu membuat atau mensintesis makanannya sendiri, berupa bahan organik dan bahan-bahan anorganik dengan bantuan energi matahari melalui proses fotosintesis. Semua organisme yang mengandung klorofil terutama tumbuhan hijau daun disebut organisme autotrof.
b)   Organisme Heterotrof adalah semua organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri, akan tetapi meman faat kan bahan-bahan organik dari organisme lainnya sebagai bahan makanannya. Organisme heterotrof terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1)   Produsen
Menurut Prayoga (2011), semua produsen dapat menghasilkan makanannya sendiri sehingga disebut organisme autotrof. Sebagai produsen, tumbuhan hijau mnghasilkan makanan (karbohidrat) melalui proses fotosintesis. Makanan dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri maupun makhluk hidup lainnya. Dengan demikian produsen merupakan sumber energi utama bagi organisme lain, yaitu konsumen.
2)   Konsumen, yaitu organisme heterotrof yang secara langsung memakan organisme lain, seperti manusia dan hewan. Menurut Prayoga (2011), berdasarkan jenis makanannya, konsumen di kelompokkan sebagai berikut:
a] Pemakan tumbuhan [herbivora], nisalnya kambing, kerbau, kelinci dan sapi.
b] Pemakan daging [karnivora], misalnya harimau,burung elang,dan serigala,
c] Pemakan tumbuhan dan daging [omnivora], misalnya ayam, itik, dan orang             hutan.
d.] Pengurai [dekomposer].
3)   Pengurai (perombak atau dekomposer), yaitu organisme heterotrof yang mendapatkan makanan berupa bahan organic dengan cara merombak sisa-sisa organisme mati atau produk dari organisme hidup, seperti bakteri dan jamur;
4)   Detritivor, yaitu organisme heterotrof yang memakan partikel-partikel organik atau remukan jaringan organik yang telah membusuk, seperti cacing tanah, siput, dan tripang.

2.2 Ekosistem Alami
              Ekosistem alami adalah ekosistem yang terbentuk secara alami misalnya danau, rawa, hutan. Ekosistem alami dapat dibedakan lagi kedalam beberapa jenis ekosistem, yaitu ekosistem darat, air tawar, air laut, dan pantai. Ekosistem darat di bedakan atas beberapa bioma seperti gurun, padang rumput, hutan basah, hutan gugur, taiga dan tundra. Ekosistem air tawar dibedakan atas danau, rawa, dan sungai.
Ekosistem Darat dibedakan atas :
1)      Bioma gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu siang hari tinggi (bisa mendapai 45C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.
2)      Bioma padang rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.
3)       Bioma Hutan Basah
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar;suhu sepanjang hari sekitar 25C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.
4)      Bioma hutan gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).
5)       Bioma Taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
6)       Bioma tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin. Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.

Ekosietm air laut dibedakan atas :
a. Ekosistem air laut berdasarkan daya tembus sinar matahari kedalam air laut, dibedakan       atas :
1)   Fotik, merupakan daerah yang masih mendapat sinar matahari.
2)   Afotik, merupakan daerah yang tidak mendapat sinar matahari.

b. Ekosistem laut secara fisik dibedakan :
1)   Daerah litoral, adalah daerah yang berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Biota yang hidup di daerah ini antara lain: ganggang yang hidup sebagai bentos, teripang, binatang laut, udang, kepiting, cacing laut.
2)   Daerah neritik, adalah daerah yang dalamnya ± 200 m dari permukaan laut. Daerah ini masih dapat tertembus cahaya matahari. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton, neston dan bentos.
3)   Daerah batial, adalah daerah yang kedalamannya mencapai 200-15000 m dari permukaan laut. Daerah ini mendapat sedikit cahaya. Daerah ini sudah tidak ada produsen. Hewannya berupa nekton.
4)   Daerah abisial, adalah daerah yang kedalamannya lebih dari 1500 meter. Daerah ini
tidak tertembus oleh cahaya matahari. Daerah ini gelap sepanjang masa, tidak terdapat produsen.
c. Ekosistem pantai dibedakan atas beberapa formasi-formasi adalah tumbuhan yang cocok untuk habitat tertentu. Formasi yang membentuk ekosistem dibedakan atas :
1)   Hutan Mangrove
Vegetasi utamanya adalah bakau, bogem dan kayu api.
2)   Formasi Pes caapre
Vegetasi yang utama adalah telapak kambing, rumput angin
3)   Formasi barringtonia
Vegetasi utama selain keben dan butun terdapat pula ketapang, pandan dan bakung.

Penjelasan selengkapnya mengenai beberapa ekosistem pantai :
a)   Ekosistem pantai pasir

Ekositem pantai pasir merupakan zona litoral yang terkena ombak terus menerus dan terpaan cahaya matahari selama 12 jam.Pantai berpasir hampir tidak ada kehidupan. Pantai berpasir merupakan komponen penting lingkungan pesisir sebagai :
1.         Penghalang terdapat erosi pantai
2.         Tempat rekreasi
3.         Habitat berbagai jenis burung, penyu, ikan dan berbagai invertebrata.

Vegetasinya membentuk formasi :

1)    Formasi Prescaprae

Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuhan yang tumbuh digundukan pasir adalah Ipomoea Pes Caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin,tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex Littorium (rumput angin), Vigna.

2)    Formasi Baringtonia

Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina. Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera. Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.

Sebagian besar pantai di wilayah tropis adalah pantai berpasir.Pantai pasir secara ekologis sangat penting sebagai habitat beberapa organisme,termasuk kepiting dan burung,dan beberapa lokasi sebagai tempat lahirnya penyu.Pantai berpasir ini dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena beberapa tempat di pantai ini dijadikan tempat rekreasi yang penting.Pantai berpasir ini juga banyak digunakan oleh perahu-perahu ikan dan beberapa aktivitas perikanan sebagai landasan (base) atau lokasi kegiatan.Minyak umumnya akan terakumulasi pada permukaan sendimen antar-pasang-surut dan dapat menimbulkan dampak pada organisme termasuk burung-burung dan penyu-penyu yang mendarat di daerah pantai ini.

 Minyak juga dapat masuk ke dalam lapisan bawah permukaan, tingkat penetrasi ini dipengaruhi oleh ukuran butir sedimen, tingkat penterasi air, kekentalan minyak, dan keberadaan lubang jejak-jejak jalan kepiting atau cacing.

Penetrasi minyak ke dalam pasir kuarsa lebih besar dibanding pasir halus, sementara kemungkinan penetrasi minyak ke dalam sedimen yang memiliki lubang jalan air lebih kecil dibanding sedimen yang kering. Minyak ringan dapat melakukan penetrasi dengan mudah, sedang minyak yang kental cenderung tetap berada pada permukaan.

Minyak yang masuk ke dalam lubang jejak-jejak jalan kepiting atau cacing dapat mengakibatkan dampak kematian pada kepiting atau cacing yang hidup dalam lubang-lubang tersebut. Minyak yang tetap berada pada atau sekitar permukaan pasir dan minyak yang terkena aksi gelombang yang besar tidak akan tinggal pada pantai berpasir dalam jangka waktu lama, namun minyak yang berada di lapisan bawah pemrukaan dapat tetap tinggal hingga beberapa tahun, kecuali dibersihkan secara mekanis.

Sedimen minyak yang terangkat dari permukaan pantai berpasir oleh aksi gelombang dapat terbawa dan terendapkan pada kawasan yang lebih kearah lepas pantai, dimana minyak dapat memberi dampak pada organisme di dasar perairan. Kandungan minyak hidrokarbon pada daging kerang telah terdeteksi dari beberapa kasus tumpahan minyak, khususnya pada kawasan teluk yang landai.

Dampak ini cenderung tidak terjadi pada pantai yang terbuka, dimana sedimen terkontaminasi minyak dapat tersebar dan terendapkan dalam lingkungan kawasan yang lebih luas.

Karakteristik Pantai Pasir
1.      Kebanyakan terdiri dari kwarsa dan feldspar,bagian yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan batu di gunung.
2.      Dibatasi didaerah diamana gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan ringan. Total bahan organik dan organisme yang hidup di pantai berpasir jauh lebih sedikit dibanding dengan jenis pantai lainnya.
Pantai berpasir dinominasikan oleh 3 invertebrate :
1.         Cacing Polikaeta
2.         Mollusca Bivalvia
3.         Rustacea



Fungsinya:
1.         Tempat beberapa biota meletakan telurnya
2.         Tidak dapat menahan air dengan baik karena sendimennya yang kasar akibatnya lapisan permukaannya menjadi kering sampai sedalam beberapa cm diatas pantai yang terbuka terhadap matahari pada saat pasang surut.

Parameter lingkungannya:
1.         Pola arus yang akan mengangkut pasir yang halus
2.         Gelombang yang akan melepaskan energinya dipantai
3.         Angin yang juga merupakan pengangkut pasir

Asosiasi Fauna

Dua kelompok ukuran organism yang bias beradaptasi di daerah pantai pasir :
1.         Organisme Infauna makro (berukuran 1-10 cm),yang mampu menggali liang           didalam pasir.
2.         Organisme Meiofauna mikro (berukuran 0,1-1 mm),yang hidup diantara butiran     pasir di ruang teristitial
b)   Ekosistem Pantai Berlumpur

Pantai berlumpur merupakan tempat dimana beberapa organisme berlindung,bertelur dan membesarkan anak.Merupakan juga area yang kaya nutrisi banyak jenis tumbuhan marin dan pantai.
Pantai berlumpur banyak terdapat di kawasan yang landai dan sering berasosiasi pada hutan manggrove dan lamun. Ekosistem Pantai Lumpur terbentuk dari pertemuan antara endapan lumpur sungai dan laut yang berada di muara sungai dan sekitarnya.Apabila sungainya besar,lumpur tersebut membentang luas hingga menjorok ke laut.Ekosistem pantai lumpur yang terdapat di muara disebut Monsun Estuaria.Habitatnya berbagai jenis ikan gelodok.Komunitas tumbuhannya adalah Tricemia,Skeratia dan Enhalus Acoroides (rumput laut).Hewan-hewan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.Biasanya ekosistem ini kita temui pada sungai-sungai lebar seperti di Pulau Kalimantan,Irian Jaya,Sumatra dan Jawa. Salah satu contoh ekosistem pasir berlumpur adalah hutan mangrove.
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang kaya dan menjadi salah satu sumberdaya yang produktif.
Hutan mangrove sebagai salah satu sumberdaya kelautan mempunyai peranan yang cukup panting. Secara ekologis berbagai jenis hewan laut hidup di daerah mangrove.

Vegetasi Hutan Mangrove memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, dengan jumlah jenis yang tercatat sebanyak 202 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas. Namun tidak semua jenis mangrove dapat ditemukan pada ekosistem mangrove, paling tidak didalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati yang dominan pada hutan mangrove, sepeti famili Rhizophoraceae, Sonneratiaceae, Avicenniaceae, Meliaceae.
Karakteristik Pantai Lumpur :
·            Terdapat didaerah intredital (Wilayah yang diperngaruhi oleh pasang surut sepanjang garis pantai)
·            Daerah pantai ini dipenuhi oleh tumbuhan yang terdiri dari terhadap kondisi lingkungan peralihan antara daratan dan lautan.
·            Umumnya hanya ditemui di pantai yang berombak relative kecil dan bahkan terlindung dari ombak
·            Disepanjang delta dan estuaria yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan.
Fungsi (manfaat) :
·            Sebagai perendam gelombang dan angin badai.

d. Ekosistem air tawar dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.    Ekosistem air tenang (lentik) misalnya: danau, rawa.
2.    Ekosistem air mengalir (lotik) misalnya: sungai, air terjun.
Ciri-ciri ekosistem air tawar:
a.    Kadar garam/salinitasnya sangat rendah, bahkan lebih rendah dari
kadar garam protoplasma organisme akuatik.
b.    Variasi suhu sangat rendah.
c.     Penetrasi cahaya matahari kurang.
d.    Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Flora ekosistem air tawar:
     Hampir semua golongan tumbuhan terdapat pada ekosistem air tawar, tumbuhan tingkat tinggi (Dikotil dan Monokotil), tumbuhan tingkat rendah (jamur, ganggang biru, ganggang hijau).
Fauna ekosistem air tawar:
     Hampir semua filum dari dunia hewan terdapat pada ekosistem air tawar, misalnya protozoa, spans, cacing, molluska, serangga, ikan, amfibi, reptilia, burung, mammalia. Ada yang selalu hidup di air, ada pula yang
ke air bila mencari makanan saja.

2.3 Ekosistem Buatan
            Ekosistem Buatan. Ekosistem suksesi buatan merupakan ekosistem yang dengan sengaja dibuat sesuai kebutuhan manusia seperti pembuatan danau/waduk/bendungan, hutan tanaman, agroekosistem, dan sebagainya. Beberapa contoh ekosistem buatan sebagai berikut.
Bendungan/Waduk
Adakah waduk/bendungan di daerah tempat tinggal Anda? Tujuan dibangunnya waduk/bendungan, yaitu sebagai tempat penampungan air untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti pengairan/irigasi pertanian, pembangkit tenaga listrik, tempat rekreasi, dan sarana olahraga. Selain itu, waduk merupakan ekosistem baru dengan substrat dasar biasanya berasal dari kebun atau sawah maupun hutan dengan sifat geologi yang berbeda-beda. Pada umumnya, komunitas biotik terbentuk masih dalam fase suksesi dengan umur yang berbeda-beda seperti pada mulanya berbagai macam ikan ditebarkan kemudian banyak tumbuhan pendatang tumbuh, misalnya kiambang dan enceng gondok yang menutupi permukaan dan menjadi dominan di waduk itu.
Hutan Tanaman
Hutan tanaman merupakan vegetasi yang terdiri atas tanaman budidaya bernilai tinggi yang dengan sengaja ditanam pada kawasan tertentu. Biasanya jenis tanaman yang dibudidayakan bernilai tinggi, seperti tanaman jati, mahoni, pinus, damar rasamala, ampupu, manglit, dan puspa.
Agroekosistem
Agroekosistem merupakan ekosistem yang dengan sengaja dibuat untuk keperluan pertanian. Keanekaragaman ekosistem ini dipengaruhi oleh faktor jenis tanah, topografi, iklim, dan budaya. Agroekosistem yang dikembangkan di Indonesia pada saat ini antara lain: 1) sawah irigasi, 7) kolam, 2) sawah tadah hujan, 8) kebun, 3) sawah surjan, 9) pekarangan, 4) sawah rawa, 10) perkebunan, 5) sawah pasang surut, 11) ladang. 6) tambak.
2.4 Pengertian Aliran Energi dan Materi dalam ekosistem
Produser mendapatkan energi dari cahaya matahari untuk menyusun zat organik melalui fotosintesis. Jadi, matahari merupakan sumber energi bagi kehidupan. Energi itu digunakan untuk menyusun gula. Dikatakan bahwa energi itu diubah dari energi cahaya menjadi energi kimia (gula). Selanjutnya, energi kimia berpindah ke konsumer I, lalu ke konsumer II, ke konsumer III, dan seterusnya. Dikatakan bahwa energi itu mengalir dari matahari ke produser, ke konsumer I, ke konsumer II, ke konsumer III. Inilah yang dikatakan sebagai aliran energi di dalam ekosistem. Aliran energi berakhir pada proses penguraian. Di dalam proses penguraian, energi dilepaskan dalam bentuk panas, kemudian tersebar ke lingkungan.
Jika hewan memakan tumbuhan tumbuhan, energi itu berpindah ke tubuh hewan yang memakannya tadi. Di dalam tubuh hewan tersebut, energi itu akan digunakan untuk berbagai hal:
  • Disimpan dalam bentuk glikogen atau persenyawaan lain
  • Sebagian untuk metabolisme tubuh
  • Sebagian untuk menanggapi rangsang
  • Sebagian untuk bergerak
  • Sebagian untuk berkembang biak
  • Sebagian yang lain berubah dalam bentuk panas tubuh
  • Sebagian yang lain disimpan dalam bentuk jaringan tubuh. Energi yang berubah dalam bentuk panas akan tersebar ke lingkungan menjadi energi yang tak termanfaatkan lagi.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl6ncqvTsqwjGkN_c4bS4nN5wNV3L-uzSN_gij0DDB6SxOpM_ehUKZsrE1WyF7gQSyQ1V4K5P5-0JcPKRc_LIlqyy78W9KpdAvEHnBwDLj2yXFJG9IdYhNQ78_aRQpFtQFwfB4q60kt8M/s1600/aliran+energi.jpeg
Gb. 2.4.1
            Pada setiap tingkat trofik, energi yang dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk panas dapat mencapai 90%. Jadi, hanya 10% dari energi itu yang digunakan untuk kegiatan hidupnya. Karena itu, semakin jauh energi itu dari sumbernya akan semakin kecil alirannya. Hal ini disebabkan karena adanya energi yang beralih dalam bentuk panas tubuh seperti diuraikan tadi. Di dalam ekosistem terjadi pemborosan energi. juga tampak bahwa energi itu mengalir dari luar (matahari) ke dalam ekosistem dalam satu alur. Energi tidak dapat berdaur ulang dan tidak dapat kembali lagi ke matahari.
            Salah satu sifat yang penting adalah energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Perubahan bentuk energi itu dikenal sebagai transfofmasi energi. Makhluk hidup mampu melakukan transformasi energi. Misalnya, dari energi gula diubah menjadi lemak dan protein, yang kemudian disimpan di dalam jaringan tubuh, atau diubah menjadi energi gerak.
Produser merupakan pengguna energi matahari secara langsung. Dikatakan produser menempati tingkat trofik I. Konsumer I menempati trofik II, konsumer II menempati trofik III, dan seterusnya.
Karena adanya pemborosan energi yang terlepas dalam bentuk panas pada setiap tingkat trofik, maka semakin jauh jarak transfer energi dari matahari, semakinkecil aliran energi tersebut. Ini berarti bahwa konsumer III yang berada di tingkat trofik IV mendapatkan energi yang paling sedikit dibandingkan dengan konsumer II yang berada pada tingkat trofik III. Kondisi demikian menyebabkan konsumer III berada pada posisi “rawan punah”. Coba perhatikan bagaimana saat ini populasi alap-alap, elang, garuda, dan burung hantu yang terus menurun dan mendekati kepunahan. Bandingkan dengan populasi burung yang langsung memakan produser.
Semua makhluk hidup memerlukan energi untuk melakukan aktivitas hidupnya. Energi tersebut dapat diperoleh dari makanan. Proses konsumsi makanan merupakan proses transfer atau perpindahan energi.
Aliran energi dalam ekosistem dapat digambarkan dengan rantai makanan dan jaring makanan. Dalam ekosistem terdapat beberapa tingkatan trofik.
  • Produsen, adalah organisme penghasil energi terbesar yaitu organisme autotrof atau tumbuhan.
  • Konsumen, adalah organisme pemakan produsen. Konsumen terdiri dari konsumen pertama, kedua, dan seterusnya.
  • Pengurai, adalah organisme dekomposer yang biasanya terdiri dari mikroorganisme.
1.      Rantai Makanan
Rantai makanan dimulai dari organisme autotrof dengan mengubah energi cahaya dari matahari menjadi energi kimia. Energi kimia ini akan diteruskan pada konsumen tingkat pertama atau primer, tingkat kedua atau sekunder, dan seterusnya sampai kelompok organisme pengurai atau dekomposer. Contohnya rantai makanan adalah sebagai berikut
Padi → Tikus → Ular → Elang
Padi sebagai produsen,  tikus sebagai konsumen primer, ular sebagai konsumen sekunder, elang sebagai konsumen tersier.
2.     Jaring Makanan
Setiap organisme memakan lebih dari satu makanan. Sehingga hubungan makan dan aliran energi pada ekosistem alami lebih kompleks dibandingan hanya sekedar lantai makanan. Interaksi ini disebut dengan jaring makanan.
3.      Piramida Biomasa
Merupakan gambaran diagramatik dari organisme pada berbagai tingkatan trofik dalam ekosistem. Umumnya biomasa herbivora akan lebih sedikit daripada produsen. Biomasa karnivor akan lebih sedikit daripada herbivor dan seterusnya. Inilah yang disebut dengan piramida biomasa.
4.      Piramida Energi 
Dalam ekosistem, hanya sebagian kecil energi yang ditransfer ke tingkatan trofik diatasnya. Kira-kira hanya sekitar 10% yang ditransfer ke trofik diatasnya. Sedangkan 90% sisanya digunakan untuk beraktivitas dan menjadi kalor oleh suatu tingkatan trofik. Jadi energi yang dapat digunakan oleh tingkatan trofik diatasnya hanya 10% saja. Efisiensi ekologis tersebut membatasi panjangnya suatu rantai makanan karena banyaknya energi yang hilang. Dengan meningkatnya tingkatan trofik maka jumlah energi yang digunakan oleh organisme makin kecil
          Menurut Tafiqullah 2011,  Sumber energi dari suatu ekosistem berasal dari cahaya matahari, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tumbuh- tumbuhan sebagai produsen membutuhkan cahaya tersebut untukmelakukan proses fotosintesis, dimana sebagian energi tersebut berpindahkepada konsumen I dan dalam bentuk makanan, selanjutnya berpindahlagi kepada konsumen II dan III.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJrxOMKgX0d8Z5K1ekBRSJEJnDn1xdHeUhhB8jTgUyY8n50Ik3RszFJbnprkv9JPRzG3U3jGwXYxDYRhAxcimnYl4pF9sXkmGCCRv1C2zFES3LP5osrKiKTmin64sJkn4qIhfsJBV4870a/s400/1.png
Gb. 2.4.2 aliran energi dan daur materi
Jika produsen dan konsumen mati, akan menjadi sampah organik.Sampah tersebut mengalami pembusukan dari hasil penguraian mikroba tanah sehingga menjadi humus, sebagian lagi terurai menjadi gas atau mineral.Sampai di sini, materi yang berupa gas atau mineral dimanfaatkan lagi oleh tumbuhan (produsen).Dengan demikian, dapat diketahui bahwa aliran energi berbeda dengan aliran materi. Aliran materi bersifat siklus, sedangkan aliran energi bersifat menuju satu arah, yaitu sampai pada tingkat mikroba.

a. Matahari sebagai Sumber Energi
Matahari mengeluarkan energi panas dan cahaya.Dengan energi cahaya itu, bumi menjadi terang dan bumi menjadi hangatkarena panasnya. Oleh sebab itu, kita wajib bersyukur kepada Tuhan YangMaha Esa atas ciptaannya ini. Sinar matahari merupakan foton (energi sinar) yang dipancarkan ke jagad raya dalam bentuk gelombang elektromagnetik, tetapi hanya sebagian kecil saja yang sampai di permukaan bumi, yaitu sekitar 10,5 × 106 kj m-2 th-1. Dari jumlah pancaran energi sinar matahari itu, sekitar 5 × 106 kj m-2 th-1 atau sekitar 45% yang sampai di bumi, sekitar 40% dipantulkan lagi keluar angkasa oleh atmosfer bumi, dan hanya sekitar 15% saja yang diserap untuk pemanasan atmosfer bumi, terutama pada lapisan ozon dan kelembapan udara (uap air).
Dari sekitar 45% sinar matahari yang jatuh di permukaan bumi, sekitar 30% dipantulkan kembali dan memanaskan atmosfer, dan selebihnya sekitar 15% dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi komponen ekosistem di permukaan bumi. Dengan demikian, keberadaan setiap ekosistem di permukaan bumi diikat oleh aliran atau arus energi yang berasal dari sinar
matahari yang bersifat satu arah.

b.      Aliran Energi
Secara langsung maupun tidak langsung, sumber energi setiap ekosistem berasal dari sinar matahari yang diubah oleh tumbuhan hijau (autotrof) menjadi energi kimia dalam bentuk zat-zat organik (makanan) melalui proses fotosintesis. \
Pada proses fotosintesis, bentuk energi diubah dari energi cahaya menjadi
energi kimia dan berpindah ke konsumen I, II, dan III, yang berakhir pada proses penguraian. Di dalam proses penguraian, energi ini dilepaskan dalam bentuk panas, kemudian tersebar ke lingkungan dan tidak dapat dimanfaatkan lagi. Perhatikan lagi Gambar 10.4! Dalam hal ini terjadi jalur makan dan dimakan, yaitu proses produsen yang dimakan oleh konsumen I, selanjutnya konsumen I dimakan konsumen II, konsumen II dimakan konsumen III. Peristiwa ini disebut sebagai rantai makanan.
1) Rantai Makanan
Seperti yang Anda ketahui saling ketergantungan antara produsen dan konsumen tampak pada peristiwa makan dan dimakan. Energi dalam bentuk makanan akan  erpindah dari organisme tingkat tinggi ke organisme lain yang tingkatannya lebih rendah melalui rentetan organisme memakan organisme sebelumnya dan sebagai penyedia bahan makanan bagi organisme berikutnya yang disebut rantai makanan. pada umumnya, tipe  rantai makanan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut. a) Rantai Makanan Perumput Pada tipe ini, mata rantai makanannya berawal dari tumbuhan, maka tingkat trofi 1 diduduki oleh tumbuhan hijau (produsen), tingkat trofi 2 diduduki oleh herbivora (konsumen 1), tingkat trofi 3 diduduki oleh karnivora (konsumen 2), dan seterusnya.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMcybjt8VDSXetAiZD03BNo88yplpwI72eJxehofmpe4BDbY-w15r692fM4owqMyVxKF1ochIocHy-bJhyphenhyphenf1nQR48Hfqq3azoQBhoWoQd6rkkPuF5jUEhsGA7mfQ69jPMTeqUdPH5Ye70R/s400/2.png


b) Rantai Makanan Detritus
Mata rantai makanan pada tipe ini berawal dari organisme perombak.
Ingat kembali, detritus merupakan hancuran (fragmen) dari bahan-bahan sudah terurai yang dikonsumsi hewan-hewan kecil seperti rayap, cacing tanah, tripang, dan sebagainya.
              Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHPfWfL-V7P9W_L1NUYTUcX7J1mMtCHvhpUXnvUaACdI7VlPL2Ngk67aCK5Jy9iCcn-cdfPke9B-GY_Qcw5DtMNYrEizRKg6S5UNkpLg4l6ubUyaGY3P4O7p-l1hBJ5qwLUbwPZvihlJHT/s400/3.png
c) Rantai Makanan Parasit
Pada tipe rantai makanan parasit, terdapat organisme lebih kecil yang
memangsa organisme lebih besar.
                               Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1Cr2h0Zf-mIICExbmFlnOJbWuGcS-d8qax_dpZpgbnbtIGedworZ-vz0uCXo58FYaX-UJ0wHbd1TVVJGvfIEhk4lJN2j71NRyFQ_BKyl5iY2RxG-1_1EILfiEcxza5rd7l7OpqEe4kPWQ/s400/4.png


2) Jaring-Jaring Makanan
Dari uraian komponen biotik di atas, pada tiap-tiap tingkatan konsumen tampak seolah-olah setiap organisme hanya memakan atau dimakan oleh satu macam organisme yang lain, tetapi kenyataannya di dalam ekosistem keadaannya lebih kompleks.
Hal ini terjadi karena tiap-tiap organisme dapat memakan dalam satu tingkatan konsumen atau dari tingkatan konsumen lain di dalam ekosistem yang dikenal dengan rantai makanan dan antara rantairantai makanan itu saling berhubungan satu dengan lainnya yang dikenal dengan jaring-jaring makanan seperti terlihat pada Gambar 10.5.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMVOzhYEnuJa8Nms90K6qVm6o_28D3Cf7ScmFymwMUqiEq_9YQGH-w5UFp2oibeHfrfHdyNBLAHdA-9pL36aS1V-exNaAn2mJM4wURnZT8NA26oeCKauZV78ofzT5Q9sXtl3O22gcU7CiT/s400/5.png

Rangkaian peristiwa makan dan dimakan dalam suatu ekosistem tidak sesederhana rantai  akanan. Seperti tampak pada Gambar 10.5, ternyata konsumen tidak hanya tergantung pada satu jenis makanan, sebaliknya satu jenis makanan dapat dimakan oleh lebih dari satu jenis Konsumen.

3) Piramida Ekologi
Telah kita ketahui bersama, bahwa komponen-komponen biotik pada rantai makanan ekosistem menempati tingkatan trofi tertentu, seperti produsen menempati tingkat trofi pertama, herbivora menempati tingkat trofi kedua, karnivora menempati tingkat trofi ketiga, dan seterusnya.
Ketika organisme autotrof (produsen) dimakan oleh herbivora (konsumen I), maka energi yang tersimpan dalam produsen (tumbuhan) berpindah ke tubuh konsumen I (pemakannya) dan
konsumen II akan mendapatkan energi dari memakan konsumen I, dan seterusnya.
Setiap tingkatan pada rantai makanan itu disebut taraf trofi. Ada beberapa tingkatan taraf trofi pada rantai makan sebagai berikut.
a) Tingkat taraf trofi 1 : organisme dari golongan produsen (produsen primer)
b) Tingkat taraf trofi 2 : organisme dari golongan herbivora (konsumen primer)
c) Tingkat taraf trofi 3 : organisme dari golongan karnivora (konsumen sekunder)
d) Tingkat taraf trofi 3 : organisme dari golongan karnivora (konsumen predator)
Di dalam rantai makanan tersebut, tidak seluruh energi dapat dimanfaatkan, tetapi hanya sebagian yang mengalami perpindahan dari satu organisme ke organisme lainnya, karena dalam proses transformasi dari organisme satu ke organisme yang lain ada sebagian energi yang terlepas dan tidak dapat dimanfaatkan. Misalnya, tumbuhan hijau sebagai produsen menempati
taraf trofi pertama yang hanya memanfaatkan sekitar 1% dari seluruh energi sinar matahari yang jatuh di permukaan bumi melalui fotosintesis yang diubah menjadi zat organik.

Jika tumbuhan hijau dimakan organisme lain (konsumen primer), maka hanya 10% energi yang berasal dari tumbuhan hijau dimanfaatkan oleh organisme itu untuk pertumbuhannya
dan sisanya terdegradasi dalam bentuk panas terbuang ke atmosfer.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGFyDWN6VnzIFEv1RV3Pih67TGb0b7v-ReKcJNRdxKvVODSbCKoMcrBTeJeR4WsKcC9KZ248B2vWCCGUEyyIX9D5cAyG0JkMIdnSTCBrX0GVchh8s3JBqG_rX0lccR99RTSeXisWbjTTJq/s320/6.png
Dengan demikian, energi yang tersedia untuk tingkat trofi padarantai makanan seperti berikut: semakin tinggi tingkat trofi, semakin sedikit sehingga membentuk sebuah piramida yang disebut piramida ekologi, seperti pada Gambar 10.6. Selama keadaan produsen dan konsumen tetap membentuk piramida, maka keseimbangan alam dalam ekosistem akan terpelihara.
Ada 3 macam-macam piramida ekologi adalah sebagai berikut.
a) Piramida Jumlah

Piramida jumlah merupakan jumlah organisme yang berada di dalam suatu daerah (areal) tertentu yang dikelompokkan dan dihitung berdasarkan taraf trofi. Untuk menggambarkan piramida jumlah dinyatakan dalam bentuk segi empat yang luasnya menggambarkan atau sebanding dengan jumlah organisme dalam areal tertentu.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4D-S9Evs0bbqSaaWCCXyd0Z5A39lepD6JRoUR3u4_tTTJ3wZwNNSYGNWdIWRDTPibqYowpkUbSCUU7Ko0e_JSi2ti_9kSHIi4HYnjzKDum4AM6uu1-3G_vnjc1-J4nbkGgNfvlMlA-bMT/s400/a.png
Pada piramida jumlah, golongan organisme yang berada pada tingkatan lebih tinggi memiliki jumlah organisme lebih banyak dari tingkatan organisme di bawahnya. Piramida tersebut dapat digambarkan seperti pada gambar di samping. Pada tingkat trofi I memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan tingkat trofi II dan tingkat trofi II lebih besar dibandingkan dengan tingkat trofi III.
b) Piramida Berat (Biomassa)
Penggunaan piramida jumlah sering berubah-ubah karena keadaan lingkungan, untuk itu digunakan piramida berat (biomassa).
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgibmTQkjJQx21TtGLr_MUyTgCkzb8tIRUfPIrE6zQ4tgN5Pv90YfEuLuZUX3gZz_TeMgXfzE29dFUrW_ZDPwSj6amrpW14QK-enW5diEkTNMZMEZ9RbuEXqBiuSfKRdj6E2LvgVOjICwSB/s400/b.png
Piramida berat (biomassa) merupakan taksiran berat organisme yang mewakili setiap taraf trofi dengan cara tiap-tiap individu ditimbang dan dicatat jumlahnya dalam suatu ekosistem. Misalnya biomassa tumbuhan di ukur berat akar, batang, dan daun yang menempati areal tertentu. Piramida biomasa dibuat berdasarkan berat total populasinya pada suatu waktu.
Satuan yang dipakai adalah berat total organisme dalam satuan berat  (gr/kg) per satuan luas tertentu (m² atau hektar) yang biasanya diukur dalam berat kering. Untuk mengukur biomassa seluruhnya, dilakukan teknik sampling (cuplikan) guna memperkirakan seluruhnya.
Penafsiran dalam piramida biomassa memerlukan banyak waktu dan peralatan dalam melakukan penimbangan individu-individu dan mencatat jumlahnya. Penggunaan piramida ini tidak memuaskan karena bentuk yang berubah-ubah. Hal ini tergantung pada iklim dan dalam transfer energi sebagian akan hilang, yaitu digunakan untuk respirasi atau sebagai panas
yang masuk ke biosfer.
c) Piramida Energi
Piramida energi dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Piramida ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu dapat memperhitungkan kecepatan produksi, berat dua  pecies yang sama tidak harus memiliki energi yang sama, dapat digunakan untuk membandingkan berbagai ekosistem, adanya masukan energi matahari yang ditambahkan.
Piramida energi ini menggambarkan banyaknya energi yang tersimpan dalam 6 tahun yang digunakan senyawa organik sebagai bahan makanan. Satuan energinya dinyatakan dalam kalori per m² per satuan waktu (kal/m2/th).
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXeHX2cXcM6aePYutJ5tatQWcJwQD7fR3fVleVWw6FEaZakXto1gCoAlnhcCFzrOcfvwxjPNqcLgTQ06Hmb00mzABnKBxf5Kl8jnPsg13WpSRf03frpe11c8Y0qyEV3zPdjOXKA5DUr-p1/s1600/c.png
























BAB IV
PENUTUP

Ekosistem merupakan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Adapun fungsi ekosistem untuk enjaga fungsi ekologis yaitu dalam pengaturan tata guna air, perlindungan tanah, menjaga iklim setempat, menghasilkan oksigen dan karbondioksida serta pengendalian hama. Sebagai fungsi ekonomi yaitu penyedia bahan makanan, bahan baku bangunan, bahan obat-obatan, dan kosmetik. Fungsi sumber daya plasma nutfah (genetik).Fungsi Ilmiah dan Pendidikan Berfungsi sebagai estetika dan budaya. Aliran energi berbeda dengan aliran materi, Aliran materi bersifat siklus, sedangkan aliran energi bersifat menuju satu arah, yaitu sampai pada tingkat mikroba.