TITANIUM

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

makalah Ethnobotani sepertiga jadi hehe

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ethnobotani            
      Ethnobotani berasal dari kata "etnologi" yang bearti kajian mengenai budaya, dan "botani" bearti kajian mengenai  tumbuhan) adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan.Penelitian etnobotani diawali oleh para ahli botani yang memfokuskan tentang persepsi ekonomi dari suatu tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat local (Sood, 2001) .Ahli etnobotani bertugas mendokumentasikan dan menjelaskankan hubungan kompleks antara budaya dan penggunaan tumbuhan dengan fokus utama pada bagaimana tumbuhan digunakan, dikelola, dan dipersepsikan pada berbagai lingkungan masyarakat, misalnya sebagai makanan, obat, praktik keagamaan, kosmetik, pewarna, tekstil, pakaian, konstruksi, alat, matauang, sastra, ritual, sertakehidupansosial. Kini ilmu etnobotani mengarah kepada sasaran untuk mengembangkan sistem pengetahuan masyarakat lokal terhadap tanaman obat sehingga dapat menemukan senyawa kimia baru yang berguna dalam pembuatan obat-obatan modern untuk menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker, AIDS danjenispenyakitlainnya (Acharya,2008).
Ilmu etnobotani akan sangat efektif apabila diterapkan pada masyarakat lokal.Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan terhadap masyarakat setempat. Para ahli etnobotani terlebih dahulu harus mengetahui nama-nama tumbuhan yang akan dipelajari, selain nama latin, mengetahui nama sebutan suatu tumbuhan di suatu daerah juga penting.Setelah itu para ahli dapat mempelajari pemafaatan tumbuhan tersebut dalam bidang ekonomi tanpa mengabaikan faktor ekologisnya.Setelah itu stu dilanjutan dapat dilakukan dengan lebih spesifik dan terfokus dengan mengumpulkan sejumlah informasi lain (Purwanto, 2004).
2.2 Desa Meteseh Rowosari
Kondisi Geografi
Sebagai lembaga pemerintahan yang terkecil dalam struktur  pemerintahan, pemerintah desa maupun kelurahan mempunyai fungsi yang strategis yakni sebagai ujung tombak dalam pembangunan nasional dalam sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas penduduk Indonesia tinggal di pedesaan, dan sebagian besar dari mereka hidup sebagai petani.  Oleh karena itu pemerintah desa atau kelurahan diharapkan dapat lebih memberdayakan segala potensi yang ada di wilayah masing-masing.  Secara geografis Kelurahan Rowosari terletak dalam ketinggian +47 meter diatas permukaan laut, yang berarti bahwa wilayah kelurahan ini secara topografi termasuk dalam dataran rendah, sehingga curah hujan yang dialami wilayah ini sekitar 2.655 mm/tahun.  Kelurahan Rowosari adalah suatu wilayah kelurahan yang terletak  di pinggiran Kota Semarang, di wilayah Kecamatan Tembalang. Secara administratif batas wilayah Kelurahan Rowosari adalah sebagai berikut : 
1) Sebelah Utara berbatasan dengan desa Kebonbatur Kabupaten Demak
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Kalikayen Kecamatan Ungaran
3) Sebelah Timur berbatasan dengan desa Banyumeneng Kabupaten Demak
4) Sebelah Barat berbatasan dengan desa Meteseh Kecamatan Tembalang
Orbitrasi Kelurahan Rowosari adalah sebagai berikut :
1) Jarak dari pusat Pemerintahan Kecamatan : + 3 Km
2) Jarak dari pusat Pemerintahan Kota : + 17 Km
3) Jarak dari Ibukota Propinsi : + 15 Km
4) Jarak dari Ibukota Negara : + 563 Km
Adapun luas wilayah Kelurahan Rowosari adalah 719,577 Ha, yang terdiri dari 9 RW dan 41 RT. Dalam pemerintahan di Kelurahan Rowosari setiap RW merupakan satu dukuh yang terdiri dari beberapa RT. Dalam struktur pemerintahan, Kelurahan Rowosari berada dibawah Pemerintah Kecamatan Tembalang dan Pemerintah Kota Semarang dan dipimpin oleh seorang Lurah. Dalam menjalankan pemerintahan, Lurah dibantu oleh seorang Sekretaris Lurah, tiga orang Kepala Seksi (Ka. Sie.) dan empat orang staf kelurahan. Kelurahan Rowosari terdiri dari 2.243 Kepala Keluarga dengan penduduk yang berjumlah 8.722 jiwa, yang terdiri dari 4.212 orang laki- 48 laki dan 4.510 orang perempuan (Sumber data : Monografi Kelurahan Rowosari Pebruari 2006).
Keadaan Sosial Ekonomi
Kehidupan penduduk di Kelurahan Rowosari pada awalnya bercorak agraris dan mata pencaharian masyarakatnya bersifat homogen, karena hampir seluruh penduduk di wilayah Kelurahan  Rowosari ini berprofesi sebagai petani, baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Namun akhir-akhir ini jumlah petani sangat menurun drastis, karena hasil dari bertani tidak dapat dijadikan sebagai penghasilan tetap, karena tidak menentunya musim. Sehingga hal ini menyebabkan para penduduk yang berusia tua masih bertani dan yang berusia muda sebagian besar menjadi buruh bangunan.  Namun perlu diketahui bahwa jenis tanah di Kelurahan Rowosari bersifat sawah tadah hujan, jadi para petani tidak selalu menanami sawahnya dengan padi. Hal ini dikarenakan musim hujan yang tidak menentu, sehingga masa tanam padi hanya bisa dilakukan yang tidak menentu, sehingga masa tanam padi hanya bisa dilakukan satu sampai dua kali dalam setahun. Dan pada musim kemarau para petani menanaminya dengan tanaman palawija. Penduduk di Kelurahan Rowosari mengutamakan pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan keagamaan. Hal ini dapat  terlihat dari banyaknya jumlah penduduk usia sekolah yang berhasil  menamatkan pendidikannya setaraf dengan SMU dan kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi (D3, S1) maupun ke Pondok  Pesantren. Di Kelurahan Rowosari ini juga terdapat beberapa fasilitas umum seperti tempat peribadatan, sekolah, lapangan olah raga, balai kelurahan dan lain sebagainya yang menunjang berbagai kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat di Kelurahan Rowosari.  Di Kelurahan Rowosari ini juga terdapat beberapa fasilitas umum seperti tempat peribadatan, sekolah, lapangan olah raga, balai kelurahan dan lain sebagainya yang menunjang berbagai kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat di Kelurahan Rowosari.
Keadaan Sosial Budaya dan Keagamaan
Masyarakat Kelurahan Rowosari sebagai masyarakat yang beretnis Jawa mempunyai corak kehidupan sosial sebagaimana masyarakat jawa lainnya. Namun keadaan sosial budaya masyarakat  Kelurahan Rowosari hampir sebagian besar dipengaruhi oleh agama Islam. Budaya tersebut dipertahankan oleh masyarakat Kelurahan Rowosari sejak dulu sampai sekarang.
 1) Yasinan
Kegiatan ini dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Ahad malam oleh para remaja dengan acara pembacaan Surat Yasin secara bersama-sama dan dilanjutkan dengan ceramah keagamaan. Hal ini  dilakukan untuk memupuk pengetahuan keagamaan para remaja dan menjaga mereka agar tidak terjerumus dalam kegiatan yang  bertentangan dengan agama. Kegiatan ini biasanya dilakukan di  rumah penduduk secara bergantian.
2) Rebana
Rebana merupakan salah satu budaya Islami yang masih dipertahankan oleh masyarakat di berbagai wilayah, karena merupakan salah satu peninggalan budaya Islam. Di daerah Demak dan sekitarnya termasuk Semarang, group rebana menjamur di berbagai desa maupun kelurahan. Di Kelurahan Rowosari ini pun terdapat delapan group, yang masing-masing bertujuan sama yaitu mempertahankan budaya Islam. Kegiatan kesenian ini biasanya dilakukan untuk memeriahkan berbagai acara baik kegiatan yang bersifat umum maupun dalam kegiatan keagamaan, antara lain Karnaval peringatan Hari Kemerdekaan, Acara Khitanan, Acara Pernikahan, Acara Peringatan Hari Besar Islam dan lain sebagainya.
3) Tahlilan
Kegiatan tahlil ini dilakukan oleh bapak-bapak seminggu sekali  yakni setiap hari Kamis malam setelah salat Isya’. Kegiatan ini di dalamnya berisi acara pembacaan kalimah tayyibah dan siraman  rohani. Selain diadakan rutin seminggu sekali, kegiatan ini juga dilakukan pada saat seorang penduduk mempunyai hajatan baik hajatan kematian, pernikahan, khitanan, syukuran dan lain sebagainya.
4) Manaqiban
Adalah kegiatan membaca kitab Manaqib yang biasanya dilaksanakan secara bergantian di setiap rumah. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu setiap hari Rabu malam. Begitu pula dalam berbagai upacara adat yang ada di Kelurahan Rowosari sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai ajaran Islam, misalnya acara selamatan, upacara pernikahan, upacara nyadran, upacara sedekah desa dan lain sebagainya. Dalam acara tersebut pasti tidak akan ketinggalan akan bacaan Al Qur’an dan bacaan kalimah tayyibah serta doa-doa yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi nilai-nilai Islam telah meresap dalam setiap aktivitas kehidupan sosial budaya masyarakat Kelurahan Rowosari.


BAB III
METODLOGI
3.1       Jenis Data
                  Jenis data yang di gunakan dalam wawancara ini adalah data kualitatif-kuntitatif. Data kualitatif adalah berupa uraian deskripsi dan kualitas. Pendekatan kualitatif sasaran kajiannya adalah pola-pola yang berlaku yang merupakan prinsip-prinsip yang secara umum dan mendasar berlaku dan mencolok berdasarkan atas perwujudan dari gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia (Suparlan 1994: 8). Kekualitatifan penelitian ini berkaitan dengan data penelitian ini yang tidak berupa angka, tetapi berupa wacana penggunaan bahasa (Muhadjir 1999: 29). Oleh karena datanya berupa wacana, hasil akhir dalam penelitian ini pun tidak menggunakan perhitungan statistik. Dalam model pendekatan semacam ini, analisis yang dilakukan haruslah didasarkan pada kebudayaan yang dijadikan acuan gerak data-data yang diperlukan. Data kuantitatif berupa angka, jumlah dan nominal. Kedua data tersebut digunakan untuk memperoleh data ethnografi dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat.
3.2 Metode Sampling
Metode yang digunakan dalam wawncara ini adalah metode random sampling, dimana semua sampel mendapat kemungkinan untuk terambil.
3.3  Teknik Wawancara
Teknik yang digunakan dalam wawancara adalah metode wawancara tida terstruktur. Teknik yang digunakan dalam wawancara adalah teknik wawancara tidak terstruktur. Wawancara bebas (open ended), Peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersususn sistematis, Pedoman wawancara hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan, Peneliti belum tahu secara pasti data yang akan     diperoleh , Peneliti bisa bertanya basa-basi, berputar-putar lalu menukik ke permasalahan, Permasalahan mendalam (wawancara mendalam/deep interview), Penelitian pendahuluan.
3.4  Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi. Teknik observasi terdiri dari observasi langsung dan tidak langsung. Observasi langsung dilakukan dengan wawancara ke lokasi yang dituju, sedangkan observasi tidak langsung dengan cara mencari informasi tidak langsung misalnya dari buku, internet dan lain-lain.
3.5  analisis data
Analisis data terdiri dari analiss kulitatif dan analisis kuntitatif. Analiss kualitatif mencakup kategori pemanfaatan keanekaragaman jenis tumbuhan yang di temukan di desa Meteseh Rowosari. Analisis kuantitatif mencakup indeks kepentingan pemanfaatan tumbuhan untuk kepantingan masyarakat.

3.6  Presentasi data
NO
TUMBUHAN
PANGAN
BANGUNAN
OBAT
LAIN – LAIN
1.
Jagung hibrida
Biji :
Sebagai pakan burung dan dibuat marning 3



2.
Bambu kuning
Sebagai rebung (lunpia pecinan) 1



3.
Bambu hijau

Sebagai rusuk atap rumah dan pagar 1


4.
Kacang
Sebagai makanan cemilan 2



5.
Kunyit
Sebagai bumbu dapur  2

Sebagai jamu 1

6.
Randu



Kayu randu sebagai tempat telur 4
Buah randu sebagai bantal.
7.
Jati

Kayu jati untuk pintu kunsen 3

Daun jati untuk bungkus nasi, tempe 3
8.
Pisang
Sebagai makanan 1


Daun pisang untuk bungkus nasi 1





















BAB IV
TABEL PEGAMATAN
Jenis – Jenis Tumbuhan yang di peroleh :
NO
TUMBUHAN
PANGAN
BANGUNAN
OBAT
LAIN – LAIN
1.
Jagung hibrida
Biji :
Sebagai pakan burung dan dibuat marning 3



2.
Bambu kuning
Sebagai rebung (lunpia pecinan) 1



3.
Bambu hijau

Sebagai rusuk atap rumah dan pagar 1


4.
Kacang
Sebagai makanan cemilan 2



5.
Kunyit
Sebagai bumbu dapur  2

Sebagai jamu 1

6.
Randu



Kayu randu sebagai tempat telur 4
Buah randu sebagai bantal.
7.
Jati

Kayu jati untuk pintu kunsen 3

Daun jati untuk bungkus nasi, tempe 3
8.
Pisang
Sebagai makanan 1


Daun pisang untuk bungkus nasi 1

BAB V






















AcharyaD,Anshu S. 2008. Indigenous Herbal Medicines: Tribal Formulations and Traditional Herbal Practices. Jaipur:Aavishkar Publishers Distributor
Purwanto Y. 2004. The Ethnobiological Society of Indonesia. J Tropic Etnobiol 1(1):3-5
Sood SK, Nath R. and Kalia, D.C. 2001.Ethnobotany of Cold Desert Tribes of Lahoul-  Spiti (N.W. Himalaya). New Delhi: Deep Publications


Pembahasan Sim River

ini bm revisi lhoo :P ACAKADUL
V. PEMBAHASAN
Praktikum yang berjudul “Identifikasi Diatom dengan aplikasi SimRiver”  bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam pemanfaatan diatom untuk mengkaji kualitas perairan. Menurut Anonim (2011) SimRiver merupakan paket piranti lunak yang dikembangkan oleh Dr. Shigeki Mayama dari Tokyo Gakugei University dan anggotanya. Pengguna dapat mempelajari dan memahami hubungan antara aktivitas manusia, lingkungan sungai dan diatom dengan sangat mudah.
5.1   Tahapan Analisa Keanekaragaman Diatom dengan Aplikasi SimRiver
      Cara kerja yang digunakan adalah  pertama,  masuk ke proyek Diatom sebagai kata kunci atau masuk http://www.u-gakugei.ac.jp/~diatom/indonesia/video/index.html. Masuk/klik SimRiver. Pilih bahasa untuk SimRiver Masuk/klik SimRiver. Pilih level 3. dibaca prosedur dalam display, dipilih tata guna lahan (hutan, sawah dan pemukiman) dan populasi (0 sampai 10.000) untuk menciptakan lingkungan dari hulu sampai hilir. Anda juga boleh memilih instalasi pengolahan limbah sesuai opsi di daerah pemukiman. Dipilih musim dan lokasi pengambilan sampel,diatom kemudian klik OK. Ditampilkan model slide (preparat). Dipelajari instruksi dengan diklik ‘’instruksi’’ . Diidentifikasi diatom dengan mudah dapat dilakukan dengan Diatom Guide di sebelah kanan sebagai sistem pendukung identifikasi. Diklik diatom pada preparat, kemudian diklik diatom pada diatom Guide yang anda anggap sama dengan diatom pada preparat. Boks dialog akan muncul apakah jawabanmu benar atau salah. Ketika semua diatom pada preparat selesai diidentifikasi, maka boks dialog “berhasil” muncul. Dijawab diversitas spesies, kemudian isi kotak spesies diatom lalu klik 'lanjut'. Muncul grafik menempatkan diatom yang telah diperoleh. Muncul tabel untuk menghitung indeks saprobik, isi tabel Indeks Saprobik dan Klik ' hubungan antara indeks saprobik dengan kualitas air' maka akan muncul tabel hubungan antara indeks saprobik dengan kualitas air. Klik “instruksi lembar kerja” maka akan muncul tampilan Lembar Kerja atau worksheet.
5.2  Hubungan Indeks Saprobik dengan Tingkat pencemaran
      Indeks saprobik adalah salah satu monitoring sungai atau badan air lainnya untuk menentukan tingkat pencemaran yang terjadi. Kelebihan indeks saprobik adalah jangkuan yang cukup luas dan akurat bagi terjadinya suatu pencemaran badan air.
Hasil yang diperoleh adalah didapatindekssaprobikdengan level 4 dimanadapatdikatakanabahwa level 4 merupakan level tertinggiyaitu air tercemarberat. Menurut Ardi(2002)  beberapa organisme plankton bersifat toleran dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan indeks saprobik, dimana indeks ini digunakan untuk mengetahui tingkat ketergantungan atau hubungan suatu organisme dengan senyawa yang menjadi sumber nutrisinya. Sehingga dapat diketahui hubungan kelimpahan plankton dengan tingkat pencemaran suatu perairan.
Sementara Pantle dan Buck (1955) dalam Basmi (2000), menggolongkan tingkat saprobitas sebagai berikut : 
1.      Polisaprobik, yaitu saprobitas perairan yang tingkat pencemarannya berat,
sedikit atau tidak adanya oksigen terlarut (DO) di dalam perairan, populasi bakteri padat, dan H2S tinggi. 
2.      α - Mesosaprobik, yaitu saprobitas perairan yang tingkat pencemarannya
sedang sampai dengan berat, kandungan  oksigen terlarut (DO) di dalam perairan meningkat, tidak ada H2S, dan bakteri cukup tinggi.  
3.      β - Mesosaprobik, yaitu saprobitas perairan yang tingkat pencemarannya
ringan sampai sedang, kandungan oksigen terlarut (DO) dalam perairan tinggi, bakteri sangat menurun, menghasilkan produk akhir nitrat. 
4.      Oligrosaprobik, yaitu saprobitas perairan yang belum tercemar atau
mempunyai tingkat pencemaran ringan, penguraian bahan organik sempurna, kandungan oksigen terlarut  (DO) di dalam perairan tinggi, jumlah bakteri sangat rendah. 
Data penelitiandiperoleh, terdapatmasing-masing 5 spesies diatom yang ada di lingkunganhuludansetelahhulu, sedangkanpadalingkunganbagiantengahantarahuludanhilir, sebelumhilirdanhilirtidakterdapatspesies diatom karenalingkungansungaitersebutsangattercemarberat. MenurutDahuri (1995) Konsentrasi amonia yang tinggi di dalam perairan dapat bersifat racun yang dapat membahayakan hewan dan vegetasi akuatik. Karena itu kelompok diatom ini merupakan indikator yang baik untuk pencemaran. Dengan demikian, penentuan status tingkat pencemaran air dapat ditinjau dari pola penyebaran spesies-spesies indikator diatom perrifiton disepanjang aliran sungai.Olehkarenaitudapatdisimpulkanbahwasemakintercemarnyakualitas air semakinsedikitnyajumlah diatom ataubahkantidakadasamasekali. Diatom yang terdapatpadalingkunganhuluberjumlah lima diatom dengan diatom yang samapadalingkungansetelahhuluyaituNitzchiapalea, Eolimuna minima, Gomphonemaparvulum, SellaphoraseminulumsertaAchnanthidiumsaprophilum.
5.3  Analisis Data Per Spesies
            Individu  yang terdapat pada lingkungan sampel adalah Nitzchiapalea, Eolimuna minima, Gomphonemaparvulum, SellaphoraseminulumsertaAchnanthidiumsaprophilum. Adapun rinciannya sebagai berikut:
a.      Nitzchia palea
      Nitzchia palea  merupakan protista yang kebanyakan ditemukan di perairan dingin. Diktiosom  kompleks perinuklear, dan terletak hanya dalam sitoplasma pusat. Mitokondria jarang pada sitoplasma tengah, tapi berlimpah pada  sitoplasma perifer, dan mengisi banyak dari deretan  sitoplasma transvacuolar. Karakteristik, badan minyak amorf mengisi helai sitoplasma tertentu dan mungkin tidak terdapat leucosin. Pyrenoid merupakan membran pembatas, dan tetesan minyak yang ditemukan berdekatan dengan pyrenoid tersebut. Pyrenoid diatom lain, Cymbella affinis,juga membran terbatas. Membran membatasi pyrenoid adalah  gabungan dari bagian terminal cakram kloroplas, memfasilitasi gerakan cepat fotosintat ke dalam matriks pyrenoid, dimana tetesan minyak karakteristik dapat dibentuk. Fibril Carinal ditemukan sendiri-sendiri di setiap pori carinal, dan mungkin terlibat dalam gerak dari Nitzschia palea(Hutabarat,1986).
Klasifikasi ilmiah Nitzchia palea menurut Davis (1976) adalah :
Kingdom : Chromalveolata
Filum       :  Heterokontophyta
Kelas        : Bacillariophyceae
Ordo         : Bacillariales
Famili       :  Bacillariaceae
Genus       : Nitzschia
Spesies      :  Nitzschia palea
b.      Eolimna minima
Eolimna minima  merupakan diatom spesies air tawar. Katup linear elips dengan apices bulat. Daerah axial sempit, lurus. Daerah pusat dibedakan oleh striae dikedua sisi wilayah axial, agak berbentuk persegi panjang. Raphe filiform, lurus, dengan proksimal eksternal berakhir melebar.Striae paralel dekat pusat, memancarkan sepanjang sisa katup (Hutabarat,1986).
Menurut  Davis (1976) Klasifikasi Ilmiah  Eolimna minima adalah:
Algae Kelompok : Diatom 
Divisi                  : Chrysophyta 
Kelas                   : Bacillariophyceae 
Ordo                    :Pennales 
Keluarga              : Naviculaceae 
Genus                  : Eolimna 
Spesies                : Eolimnaminima
c.       Gomphonema parvulum
      Gomphonema parvulum  mempunyai deskripsi  Katup hanya sedikit asimetris dengan sumbu transapical (heteropolar), simetris terhadap sumbu apikal. Sel berbentuk kotak dalam tampilan korset dengan pseudosepta terlihat. Apeks bulat, sub-bercotok atau bercotok (kadang-kadang sub-berbentuk kepala). Raphe sering sedikit berliku-liku. Sebuah stigma tunggal hadir di salah satu sisi daerah pusat. Striae kasar dan sering terlihat belang-belang - satu stria pendek sebaliknya stigma pusat. Striae sering hampir sejajar. Spesies yang sangat variabel (Hutabarat,1986).
Klasifikasi Ilmiah Gomphonema parvulum menurut Davis (1976 adalah
Domain  : Eukaryota 
Kerajaan: Chromista 
Filum      : Heterokontophyta 
Kelas      : 
Bacillariophyceae 
Ordo       : 
Cymbellales 
Famili     :
Gomphonemataceae 
Genus     : 
Gomphonema
Spesies   : Gomphonemaparvulum
d.      Sellaphora seminulum
      Sellaphora seminulum mempunyai ciri  Sel soliter. Frustules isopolar, Kaos dan ikat pinggang dangkal cukup dalam, sehingga sel dapat terlihat dalam tampilan katup. Katup terisolasi biasanya terletak pada tampilan katup. Katup bipolar, bilateral simetris, linear-lanset dengan tiang bulat melebar-linear elips atau. Striae terlihat, sedikit radial di pusat, menjadi lebih paralel ke arah kutub. Stria pori-pori tak terliht. Daerah aksial sangat sempit, conopeum tidak ada. Daerah pusat melintang persegi panjang atau kupu-kupu berbentuk. Tidak ada polar bar. Sistem raphe pusat.Terminal celah tak terlihat. Ujung raphe pusat lurus. Band korset non-porous. Satu kloroplas per sel, terdiri dari dua lempeng besar, masing-masing appressed ke satu sisi dari korset, dihubungkan oleh isthmus sempit terhadap satu katup. Sebuah pyrenoid dapat dideteksi dalam satu sisi kloroplas (Hutabarat,1986).
Klasifikasi  Sellaphora seminulum menurut Davis (1976) adalah sebagai berikut:
Domain   : Eukaryota 
Kingdom :Chromista 
Filum      :Heterokontophyta 
Kelas      : 
Bacillariophyceae 
Ordo       : Naviculales 
Famili     : 
Sellaphoraceae 
Genus     :Sellaphora
Spesies   : Sellaphora seminulum
e.       Achnanthidium saprophilum
       Fitur yang paling khas dari morfologi spesies ini adalah garis yang berbeda dari katup raphe (sempit berbentuk bulat panjang dengan margin linear) dan katup rapheless (sempit elips untuk sempit belah ketupat dengan margin cukup cembung), non-berlarut-larut apices luas bulat dan panjang / rasio lebar. Selanjutnya, areola baris tunggal sepanjang mantel yang memanjang dan lebih atau kurang terbuka luas, yang merupakan karakteristik dilihat dalam pandangan korset di bawah mikroskop cahaya (Hutabarat,1986).
Klasifikasi Ilmiah dari Achnanthidium saprophilum  menurut Davis (1976) adalah :
 Empire    : Eukaryota
Kingdom :
Chromista
Phylum   : 
Heterokontophyta
Class      : 
Bacillariophyceae
Order      : 
Achnanthales
Family     :
Achnanthidiaceae
Genus : Achnanthidium
Spesies  : Achnanthidiumsaprophilum







BAB VI
KESIMPULAN

Semakintercemarnyalingkungan air makasemakinsedikitnyaatautidakadasamasekalispesies Diatom. Konsentrasi amonia yang tinggi di dalam perairan dapat bersifat racun yang dapat membahayakan hewan dan vegetasi akuatik. Karena itu kelompok diatom ini merupakan indikator yang baik untuk pencemaran. Dengan demikian, penentuan status tingkat pencemaran air dapat ditinjau dari pola penyebaran spesies-spesies indikator diatom perrifiton disepanjang aliran sungai.















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Laporan Hasil Pengamatan Protista. http://septi-afriyani.blogspot.com/2013/11/laporan-hasil-pengamatan-protista.html . Diakses 20 November  2013
Anonim. 2011. SimRiver. http://www.u-gakugei.ac.jp/~diatom/en/simriver/index.html. Diakses 20 November 2013
Ardi. 2002. Pemanfaatan Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan  Pesisir. Tesis PSIPB. Bogor
Basmi. 2000. Planktonologi : Sebagai Indikator Pencemaran Perairan. Fakultas
          Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.Bogor.
Dahuri. R. 1995. Metode dan Pengukuran Kualitas Air Aspek Biologi. IPB. Bogor.
Davis, B.R. 1976. The Dispersal of Chironomidae a River. Journal of Entomological Society
Hutabarat. H. Evans. 1986. Kunci Identifikasi Plankton. PT.Yasa Guna. Jakarta.
Hynes, H.B.N. 1972. The Ecology of Runing Water. Liverpool University Press. England.
Rommimohtarto dan Juwana, 2009. Water Quality Management In Pond Fish Culture. Erlangga. Jakarta.
Yuli dan Kusriani .2000. Ekologi Air Tawar. Gramedia .Jakarta.